InformasiPhatas.com || Aceh - Banjir besar kembali melanda wilayah Aceh Singkil dan menciptakan kondisi darurat yang semakin memprihatinkan. Jalur Nasional yang menghubungkan Aceh Singkil dengan Kota Subulussalam terendam banjir setinggi 50–80 sentimeter, sehingga akses transportasi lumpuh total sejak beberapa hari terakhir. Ribuan warga dari berbagai desa kini terisolasi dan mulai kesulitan memperoleh bantuan.
Di tengah situasi genting tersebut, tokoh masyarakat Aceh Singkil, Mualem, menyampaikan permohonan langsung kepada Kapolda Aceh agar helikopter kepolisian dikerahkan untuk menembus wilayah yang tidak lagi dapat diakses melalui jalur darat.
“Kami benar-benar membutuhkan bantuan udara. Kondisi jalan sudah tidak bisa dilalui, dan warga di beberapa desa terjebak tanpa akses bantuan,” ungkap Mualem.
Sebelumnya, Kapolda Aceh Irjen Pol Marzuki saat dikonfirmasi oleh Syahbudin Padank, Wakil Ketua DPW FRN Fast Respon Counter Polri Nusantara Provinsi Aceh, merespons cepat terkait situasi darurat tersebut.
“Heli sedang ke sini. Semoga tidak hujan dan bisa gerak cepat,” ujar Kapolda Aceh, Kamis (28/11) pagi.
FRN Aceh Apresiasi Respons Cepat Kapolda Aceh Syahbudin Padank memberikan apresiasi tinggi kepada Kapolda Aceh beserta jajaran atas respons cepat terhadap laporan masyarakat terkait kondisi banjir di Aceh Singkil.
“Kami dari FRN Aceh sangat mengapresiasi langkah cepat Kapolda Aceh Irjen Pol Marzuki yang langsung merespons laporan masyarakat. Ini menunjukkan kepedulian dan komitmen beliau terhadap keselamatan warga,” ujar Syahbudin Padank.
Ia menambahkan bahwa kehadiran helikopter sangat dibutuhkan untuk menembus desa-desa terisolasi dan memastikan bantuan sampai tepat waktu.
Akses Terputus, Warga Mulai Kehabisan Kebutuhan Pokok Banjir tidak hanya merendam jalan nasional, tetapi juga memasuki pemukiman warga di sejumlah desa seperti Ketapang Indah, Lae Pinang. dan berbagai titik rawan lainnya. Air yang tak kunjung surut membuat warga sangat tertekan dan membutuhkan bantuan darurat berupa makanan, air bersih, obat-obatan, hingga perlengkapan bayi.
“Saya punya anak kecil, dan susu sudah hampir habis. Kami butuh bantuan secepatnya,” ungkap seorang ibu yang kini mengungsi.
BPBD Turunkan TRC, Namun Terhambat Lapangan BPBD Aceh Singkil telah menurunkan Tim Reaksi Cepat (TRC) untuk mendata korban, memantau perkembangan air, dan mengevakuasi warga. Namun derasnya arus dan tingginya genangan membuat pergerakan tim sangat terbatas.
“Akses banyak yang tak bisa dilalui kendaraan,” kata seorang anggota TRC.
Beberapa desa yang jauh dari pusat kabupaten bahkan **belum tersentuh bantuan.
Helikopter Menjadi Harapan Utama
Dalam kondisi darurat ini, helikopter menjadi opsi paling realistis untuk membawa bantuan logistik dan melakukan evakuasi medis. Relawan menyebut jumlah warga yang perlu dievakuasi terus bertambah.
“Banyak warga terjebak dan tidak bisa bergerak ke mana-mana,” ujar seorang relawan.
Situasi Masih Belum Menentu Hingga berita ini diturunkan, curah hujan masih tinggi dan genangan air belum menunjukkan tanda-tanda surut. Warga berharap pemerintah daerah, kepolisian, TNI, dan instansi terkait dapat bergerak cepat melalui jalur udara demi keselamatan masyarakat.
Editor. Kancil